Senin, 01 Februari 2016

Resensi: Menjadi Ibu Hebat



Judul Buku      : Dia yang Kupanggil Ibu
Nama Penulis  : Ade Wulan
Penerbit           : TransMedia Pustaka
Tahun Terbit    : 2015
Ukuran                        : 13 x 19 cm
Tebal               : viii + 186 halaman
Cetakan Ke     : 1 (satu)
No ISBN         : 602-1036-07-7
Harga Buku     : Rp. 54.000,-

                Ade Wulan, nama kecil dari Ullan Pralihanta. Lahir di Pekanbaru pada 30 Desember, 29 tahun silam. Dia adalah sosok perempuan pecinta anak-anak. Buku Dia yang Kupanggil Ibu merupakan buku pertamanya yang diterbitkan TransMedia Pustaka.
            Buku ini seakan menjadi ranah bagi para ibu, terutama calon-calon ibu. Ade Wulan, dalam bukunya ini menyajikan berbagai wacana mengenai tips-tips kesuksesan menjadi ibu. Ia memberikan langkah-langkah dan gambaran seseorang dikatakan tepat menjadi ibu. Baik melalui fisik maupun kesiapan mentalnya. Bukan hanya itu, ia juga membingkainya dengan berbagai contoh yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
            Buku ini, dirancang oleh Ade Wulan menjadi beberapa sub bab. Setiap babnya memiliki elemen-elemennya masing-masing. Namun, tetap menunjukkan satu inti yang merangkum keseluruhan bab tersebut. Yaitu kehebatan dari seorang ibu.
            Menurutnya, ibu adalah panutan yang memiliki pengaruh besar pada orang lain (halaman 5). Ia bukan hanya sekedar panggilan kehormatan. Bukan pula panggilan bagi perempuan berumur. Atau perempuan yang melahirkan seorang anak dari rahimnya. Melainkan suatu sosok yang keberadaannya wajib diperhitungkan. Kenapa bisa begitu ? Sebab, sebenarnya panggilan ibu merupakan hal yang umum di dalam masyarakat kita, tetapi mempunyai makna yang sakral. Misalnya saja, perempuan yang mempunyai jabatan tinggi biasanya akan dipanggil ibu oleh bawahannya.
            Namun, bagaimanakah dengan ibu yang tega menganiaya, menjual anaknya, atau bahkan membunuh anaknya sendiri ? Pantaskah dia disapa dengan panggilan “ibu” ? Sesungguhnya panggilan “ibu” hanya pantas dinobatkan kepada orang-orang yang rela berkorban. Dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan anaknya.
            Ade Wulan menjelaskan bahwa tidak ada ketentuan kapan seseorang bisa menjadi ibu. Usia bukanlah prioritas utama seseorang pantas menjadi ibu atau tidak. Akan tetapi kematangan mental dan pola pikir jauh lebih penting dalam mempengaruhi kemampuan seseorang menjadi ibu.

Persiapan Seorang Ibu
Proses menjadi seorang ibu adalah bagian dari perjalanan panjang yang akan dilalui calon ibu. Butuh persiapan yang tidak sedikit dan tidak pula dapat dikatakan sebentar.
Adapun hal utama yang perlu dipersiapkan adalah kematangan mental. Semakin matang mental seseorang, semakin berani dia menghadapi cobaan maupun rintangan. Semakin terbentuk pribadi yang berani, semakin tangguhlah dalam segala kondisi (halaman 38). Selain itu, kesiapan fisik juga harus dipersiapkan untuk kesehatan jasmani (halaman 44).
Dari aspek kesehatan, menjadi ibu di usia muda lebih mudah dan menguntungkan daripada saat usia menginjak kepala tiga. Hal tersebut diperkuat oleh pakar kebidanan dan ginekologi, Lynn Westphal, dari Stanford University School of Medicine di Palo Alto, California (halaman 30). Harapan melahirkan perempuan di usia 20-an lebih besar daripada perempuan di luar usia tersebut.
Selain itu, kualitas sel telur perempuan muda juga lebih unggul sehingga risiko kecacatan pada bayi yang dilahirkan lebih rendah. Memiliki potensi melahirkan ecara normal dan stamina masih bagus.
Secara fisik perempuan muda memang mumpuni menjadi seorang ibu. Akan tetapi, kebanyakan ibu muda belum siap secara mental. Sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kesehatan, The Mental Health Foundation, mengemukakan bahwa ibu muda cenderung mengalami tekanan mental yang berujung pada depresi (halaman 33). Apalagi ibu muda yang baru pertama kali memiliki anak. Pengaruh lingkungan serta gagal beradaptasi pada rutinitas baru menjadi penyebab ibu muda rawan depresi.
Lain halnya dengan perempuan yang sudah menginjak usia kepala tiga. Walupun secara fisik kurang mumpuni, tetapi secara mental dia sudah matang. Perempuan usia 30-an kebanyakan sudah memiliki kesiapan berumah tangga dengan segala aspek yang akan dialami pada kehidupan barunya. Mereka tidak hanya siap dalam arti perannya sebagai seorang istri, tetapi juga kesiapan mentalnya untuk mengurus anak-anaknya.
Ibu yang Luar Biasa
Pada dasarnya, semua ibu luar biasa. Mereka menjadi biasa-biasa saja apabila melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dengan sengaja. Ibu yang luar biasa senantiasa memikirkan, mengupayakan, dan mencontohkan segala yang terbaik untuk anaknya (halaman 72).
Kasih sayang ibu kepada anak tidak boleh jebol. Artinya, anak berhak disayang tetapi tidak selalu dimanjakan (halaman 73).
Ade Wulan banyak mencontohkan kisah-kisah nyata ibu hebat di dalam buku ini. Salah satunya yaitu kisah ibu muda dari Amerika yang benama Lacey Buchanan (halaman 140). Lacey dipercaya oleh Tuhan mengandung, melahirkan, dan menngasuh putra pertamanya yang mengalami cacat fisik. Christian, nama anaknya mengalami sumbing kompleks atau tessier sejak lahir. Christian tidak memiliki bibir atas, langit-langit dalam rongga mulut, bola mata serta kelopak mata bagian bawah. Akan tetapi, dengan sabarnya, Lacey tetap merawat Christian dengan penuh kasih sayang. Dia bahkan tidak malu, mempublikasikan Christian pada masyarakat umum. Pada dasarnya, ibu hebat adalah ibu yang selalu berkorban untuk anaknya.
Buku ini sangat direkomendasikan sebagai panduan inspiratif bagi semua kalangan terutama calon-calon ibu. Hal ini berkaitan dengan banyaknya saran dan uraian kisah tentang kehebatan seorang ibu. Dan juga gaya penulisan yang disajikan adalah dengan bahasa keseharian yang sudah umum dilapisan masyarakat.