Selasa, 29 Maret 2016

PUISI: CURAHAN HATI SI GELANDANG

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqhlX3dm5Q56tuUVSYZF-VfvBNOHsZhLoRUbrBipgeua07-oPeyPrqk-wx9zJASxLLvwgu1bAqq3RFQrQyORf7gvB1itau0eTqtm4J_u0W5RWKa5QkrO4vySqdeHQN88_6yPu2MHh79AuP/s1600/img_8487.jpg

Awal meman mentari terbitkan cahaya
Pada kabir yang dilihat gemilang
Akan hasrat yang menggebu-gebu
Membuat risau di dalam kalbu

Hamba yang terlunglai tanpa daya
Dari hayat yang egois ini
Merintih tak ada yang menghiraukan
Terlihat gundah, tapi tak dirasa

Kekehan mereka menggumpal dalam hati
Ingin jiwa ini melawan
Andai bisa kubergusar
Namun hanya untuk menambah beban

Hakulyakin untuk tetap berdiri
Demi sesuap nasi yang kucari
Walau keringat meluapkan raga daku
Tak putuskan semangat yang menjulang tinggi

Mulai terang hingga gelap ku berdoa
Mengharap inayat dari naungan-Mu
Akankah bisa kusandarkan tubuh ini ?
Dengan bekal kain yang kusut.

Kepada Malam dan Pagi





http://pulpn.com/wp-content/uploads/2015/01/foto-foto-jalanan-yang-sunyi-dan-sepi-di-seluruh-dunia-5.jpg
Sekarang aku, pada dini hari ini, pukul 00.01, Selasa, 29 Maret 2016.
Masih sama. Aku akan  sedikit mengeluh kepada pagi yang belum menampakkan cahaya itu. Embun itu. Mentari itu belum muncul. Dan aku selalu sendiri, disetiap petang ini, yang nyatanya adalah pagi. Pagi yang tidak diketahui banyak orang. Dan aku menghafalnya. Bukan sebuah penelitian, atau tesis, tapi aku melewatinya dengan jengah, kadang bingung. Itulah aku. Hanya sendiri. Ditempat ini. Masih sama. Sekian lama itu. Entah apa dan mengapa. Tapi aku berhenti dengan sebab yang ramu, sangat kabur, layaknya siluet. Iyah. Itulah aku.
Sehingga ini menjadi hoby atau apalah itu. Tapi aku selalu menemani malam itu, sampai ia pergi, dan datanglah ia, sang pengganti malam (baca: pagi) yang masih petang. Aku juga bingung. Sementara orang-orang melewati pagi dengan keindahan dan kecerahan. Dan aku menjumpai ia dengan gelap, sunyi, dan sepi. Itulah aku. Yang pada akhirnya selalu merepotkan malam dan pagi.
Dulu. Yang pada waktu itu telah lama aku jumpai, menjadi pagi dan malam yang indah. Aku masih ingat. Aku tertawa bersama malam dan pagi. Malam yang masih menjagaku, dan pagi yang masih menghiburku. Dan sekarang… mereka lama tak kembali, entah karena apa. Mungkinkah karena aku lama tak menjemputnya, padahal mereka juga telah lama menunggu semenjak waktu itu? Aku pun tak begitu paham.
Coba lihat, sekarang aku hanya hidup ketika malam mulai pergi, dan kedatangan pagi yang masih begitu petang. Aku bingung. Dulu merekalah yang mengerti semua tentang aku. Dan sekarang, setiap detail aku hafal tentang mereka. Aku pun tak tahu.
Seperti apa sebenarnya diri ini. Sama atau tidak dengan yang kemarin, aku pun tak mengerti. Itulah aku, yang masih terjaga ketika malam pergi, dan pagi masih begitu petang.
Tapi mereka adalah kawan. Aku tak begitu yakin mereka beranggapan sama sepertiku. Karena kita bahkan tak pernah terlihat menyapa, apalagi terlibang akrab. Hanya saja, aku ada di waktu itu, dan mereka hadir di waktu itu. Kita hanya berpapasan yang terlalu sering. Jadi mungkin mereka sedikit tahu tentangku, atau malah tidak.
Sewaktu ketika, mereka pernah menegur dengan sapaan yang sampai sekarang pun tak hilang dari sini (baca: hati). “apakah kita kenal? Kau terlalu banyak mencampuri urusanku. Kau terlalu tahu atau malah mengada-ada. Padahal, sedikitpun aku tak mengerti tentangmu. Tapi mengapa kau begitu ambisius. Hiduplah dalam duniamu. Dan jangan banyak melihat kearahku. Karena sebenarnya aku tak membutuhkan. Jadi sewajarnya, bila kau hanya ada di sebelah pandanganku saja. Di sisi lain, aku sama sekali jauh darimu”.
Itu melekat. Aku ingin seperti itu, tutup mata dan telinga. Berjalan sesenang hati. Tapi, memahamimu adalah hidupku. Atau hanya sebuah pelarian saja. Entah mengapa dan bagaimana. Harus aku saja yang tahu, dan k au tidak membalasnya. Atau paling tidak dengan seulas senyuman itu. Aku tidak minta malam untuk menjagaku kembali, dan pagi untuk menghiburku seperti waktu itu. Hanya saja, aku ingin di perjumpaan dengan malam yang hampir hilang, dan pagi yang masih begitu petang, di saat itu aku bahagia. Sedikit saja. Hanya seperempat hari,. Ah tidak, itu terlalu banyak. Atau hanya satu jam waktu. Tidak juga. Atau hanya seperdetik saja. Tidak, itu masih terlalu membuang-buang waktu. Aku hanya butuh satu tarikan nafas saja. Setelah itu, aku tidak akan mengganggumu. Tidak, tidak. Di waktu itu, aku akan pergi, sampai-sampai tak ada lagi, AKU yang hanya sebuah onggokan tak terlihat pada malam yang telah hilang dan kedatangan pagi yang masih begitu petang. Setelah itu anggap saja aku sebuah halusinasi. Tidak itu terlalu jelas. Anggap saja aku adalah hari esok yang tak pernah ada. Karena aku telah hilang secepatnya, di hari ini.

Rabu, 23 Maret 2016

MEMORIES NEVER DIE


https://kenuzi50.files.wordpress.com/2011/05/wpid-12129-menunggu.jpg
Seperti dalam sebuah melodi. Terdapat nada yang bisa saja indah atau justru sebaliknya.
Ini cerita pagi, disaat fajarnya mulai menampakkan keanggunannya. Dia tidak melenggak-lenggok seperti bunga dan dedaunan segar yang kemarin sore layu. Tapi, dia tegak selayak ketegasannya sangat jelas.
Disitulah aku mendapatkan kisah, yang entah baru atau justru malah mainstream. Yang pasti ini adalah senyatanya ada. Yah. Aku mendapatkan itu semua dengan kesaksian sabit yang masih bugar sampai akhirnya dia senja kembali.
Dimulai dari pandangan mata. Sangat gamblang dan lumrah seperti biasa adanya.
JATUH CINTA. Bukan falling in love. Tapi ini lebih bermakna (mungkin) daripada itu.
Dia yang kembali aku kenal hanya sebatas nama. Tidak ada sapaan dan sebatas kecangguangan yang sebenarnya adalah sisi kelemahan dariku. Itulah aku. Tak bisa berbasa-basi atau sekedar say hey. Karena melihatnya pun membutuhkan seribu alasan untuk menyanggupi.
Dia yang walau pernah membagi senyumnya kepada yang lain. Tapi aku tak masalah. Itu hanya sebatas pemanis bait atau penyedap rasa. Yang terpenting dia tak mengakui di depanku walau aku tahu itu kebohongan. Setidaknya ada usaha untuk tidak membuat hati ini menjadi serpihan. Walau aku yakin hatinyalah yang merupakan serpihan dan terbagi.
Aku tidak mempersulit dan mempermasalahkan. Ini buta. Tapi setidaknya bukan sebuah skema palsu. Dan itu aku mengatakan kunci kuat. AKU PERCAYA. Tidak ada yang sejati dan abadi. Dan hari esok tetaplah sebuah misteri. Karena tebakannya baru bisa terduga saat menjadi hari kemarin. Dan masih confused pada hari ini.
Itu terjadi secara rutin dan menambah berat di dalam hati. Aku mencintainya. Yang entah karena nafsu atau keridloan-Nya. Itu mungkin palsu. Tapi aku meyakininya. Dia yang sampai sekarang masih sama ada di sini (baca: hati).
Senyumnya pernah benar-benar ditujukan hanya untukku, walau seingatku hanya sekali. Tak apa, itu adalah anugerah terindah dan aku mensyukurinya.
Dia tidak seperti emas yang menjadi serbuan para jutawan. Dia juga bukan lembaran uang yang terus diagungkan kalangan borjuis. Dia juga bukan jabatan yang diperebutkan oleh para politikus. Tapi dia ada dan nyata. Sekali lagi, DIA ADA dan NYATA. Aku melihatnya begitu jelas. Sejelas pancaran matanya, sejelas senyumnya yang masih ramu dan meragukan. Sejelas aku melihat kecintaannya kepada-Nya (Allah) –itu merupakan kekagumanku yang benar nyata. Tapi itu INDAH. Dan aku menikmati dalam sendu dan sedih. Dalam DIAM.
Walau kenangan itu begitu sedikit dan hampir seperti bayangan. Tapi dia selalu ada dan tetap ada.
Jika seandainya bayangan itu kembali, aku yakin itu akan menjadi kesaksian yang asli. Antara AKU dan DIA. Dia yang masih ada dan tetap ada disini -hati.
Aku seperti mimpi yang masih teka-teki. Karena scenenya sangat sedikit bahkan sebatas lewat. Tapi dia selalu ada dan tetap ada. Bukan sebagai viguran, tetapi karakter utama yang masih sanksi dan samar.
Seandainya dia akan selalu ada, maka aku akan menjadi pendamping yang suka dan duka selalu atas rodlo-Nya. Dan itu semua bukan sekedar pemenuhan syahwat dan tidak menimbulkan mudharat. Iyah, antara AKU dan DIA. Selama waktu yang masih setia menjadi titik-titik. Dan perlu untuk melanjutkan kisah. Kisah itu, yang pertama dan saat ini masih sama.
Kepadanya: Aku masih sama berdiri disini dengan tangan yang kosong dan sangat dingin. Maka jangan jadi ragu. Mendekatlah dan genggam tangan itu antara selah jariku dan kamu. Agar tidak ada celah dan alasan lagi untuk menjadi dingin. Aku masih menunggu, hay kamu yang dulu dan sekarang masih sama dan tambah berat. dan senyum itu yang sampai saat ini belum bisa melebihi dari yang lain. Biar dia seorang kalangan raja pun. Kamu yang biasa, tapi istimewa disini (aku). Oleh karena itu, aku tak berani dan tak pernah berpikir sekali pun untuk menghilangkan kisah itu yang sangat sedikit. Biarlah KAMU menjadi NYATA. Aku menunggu. Dimana saatnya AKU dan KAMU menjadi SATU. SATU atas seijin ALLAH SWT.

PUISI: BAPA DAN MAMA AKU SAYANG KALIAN




UNTUK BAPA YANG TERLUPAKAN
BUKAN BERARTI KARENA AKU SANGAT JARANG MEMANGGILMU, SOSOKMU TERLUPAKAN.
BUKAN KARENA KITA JARANG BERBINCANG, SOSOKMU TERLUPAKAN
BUKAN MASALAH WAKTU YANG JARANG MEMPERTEMUKAN KITA DALAM MOMEN YANG LAMA, SOSOKMU TERLUPAKAN
TIDAK!!
KARENA NYATANYA ENGKAU SELALU ADA, DARI SEDIKITNYA MEMORI ITU.
DAN AKU SAYANG
DAN AKU CINTA
DAN AKU PEDULI
AKU TAHU, DARI SOSOKMU YANG PENDIAM
YANG HANYA BERKATA DALAM SENYUM ITU
YANG HANYA MENANGIS DALAM SENYUM ITU
YANG HANYA MENGELUH DALAM SENYUM ITU
YANG HANYA MARAH DALAM SENYUM ITU
DAN AKU TAHU, ENGKAU BUYA YANG MENYEJUKKAN
KARENA HANYA SENYUM ITU YANG KAU BERIKAN KEPADAKU
DAN AKU INGAT. MASIH SANGAT!
BAPA….
AKU PERNAH TERTAWA KARENA LELUCONMU, WALAU SEKALI
AKU PERNAH MENANGIS KARENA LELUCONMU, WALAU SEKALI
DAN AKU MENGINGAT. MASIH SANGAT!
AKU MENGINGAT KITA DIPERTEMUKAN DALAM WAKTU ITU, DAN AKU MENANTIKAN LAGI. DAN AKU MENUNGGU.
UNTUK MAMA YANG TERABAIKAN
BUKAN KARENA AKU TAK MENDENGAR NASIHATMU, SOSOKMU TERABAIKAN
BUKAN BERARTI AKU MENGACUHKAN KASIHMU YANG OVER PROTEKTIF, SOSOKMU TERABAIKAN
BUKAN PULA KARENA ENGKAU LEBIH BANYAK BICARA DARI BAPA, SOSOKMU TERABAIKAN
TIDAK!!
KARENA NYATANYA ENGKAU SELALU ADA, DARI BANYAKNYA KEJADIAN ITU
DAN AKU SAYANG
DAN AKU CINTA
DAN AKU PEDULI
AKU TAHU, DARI SOSOKMU YANG CEREWET
YANG BANYAK BICARA DALAM SENYUM ITU
YANG BANYAK MENGOMEL DALAM SENYUM ITU
YANG BANYAK MELARANG DALAM SENYUM ITU
YANG BANYAK MENOLAK DALAM SENYUM ITU
KARENA HANYA SENYUM ITU YANG KAU BERIKAN PADAKU
DAN AKU INGAT. MASIH SANGAT!
MAMA…
AKU PERNAH MARAH KARENA NASIHATMU, PADAHAL ITU SERING
AKU PERNAH MEMBERONTAK KARENA NASIHATMU, PADAHAL ITU SERING
DAN AKU MENGINGAT. MASIH SANGAT!
AKU MENGINGAT KITA DIPERTEMUKAN DALAM WAKTU ITU, DAN AKU MENANTIKAN LAGI. DAN AKU MENUNGGU.
UNTUK BAPA DAN MAMA
KITA MUNGKIN BERBEDA DARI MEREKA
KITA TIDAK DISATUKAN KARENA SEBUAH KEISTIMEWAAN
KEBERSAMAAN ITU SANGAT SEDIKIT, WALAU KALIAN SELALU ADA
AKU MASIH TETAP TERTAWA, MARAH, DAN MEMBERONTAK, WALAU SEBENARNYA AKU MENANGIS
TANPA KALIAN TAHU, WALAU SEBENARNYA HATI KALIAN SAMA MENANGISNYA.
KITA BERBEDA, BUKAN BERARTI KITA TAK SALING SAYANG. TAPI KARENA KITA MEMPUNYAI ITU YANG LEBIH.
AKU MENCINTAI KALIAN, WALAU CINTAKU MUNGKIN HANYA SEBATAS LURUHAN PASIR.
AKU MENYAYANGI KALIAN, WALAU SAYANG ITU HANYA SEBATAS MASA
AKU TERKADANG LUPA, TAPI KALIAN HARUS TAHU, BAHWA KALIAN ITU PERMANEN DI HATI, WALAU AKU TAHU KALIAN LEBIH DARI ITU
WALAU AKU TAHU, AKU BELUM SEBERAPA DARI ASA KALIAN
SEKARANG AKU KEMBALI MENGELUH, KARENA TERLALU BERAT UNTUK MEMBALAS ASA ITU
AKU TAKUT BAPA, MAMA. JIKALAU AKU TAK MAMPU MENGEMBALIKAN ASA ITU, WALAU HANYA SEDIKIT. SANGAT SEDIKIT.
TAPI AKU LEBIH LEBIH TAKUT PADA WAKTU YANG TAK TERBATAS, NAMUN IA MEMBATASI KITA.
TAPI AKU LEBIH LEBIH TAKUT, KARENA WAKTU ITU BERMASA.
TAPI AKU LEBIH LEBIH TAKUT KARENA ITU AKAN TERJADI
DAN AKU LEBIH LEBIH TAKUT KARENA KENYATAANNYA, KITA HANYA SEBATAS SEPAAN. KARENA KITA HANYALAH SEBUAH STATUS!

Senin, 01 Februari 2016

Resensi: Menjadi Ibu Hebat



Judul Buku      : Dia yang Kupanggil Ibu
Nama Penulis  : Ade Wulan
Penerbit           : TransMedia Pustaka
Tahun Terbit    : 2015
Ukuran                        : 13 x 19 cm
Tebal               : viii + 186 halaman
Cetakan Ke     : 1 (satu)
No ISBN         : 602-1036-07-7
Harga Buku     : Rp. 54.000,-

                Ade Wulan, nama kecil dari Ullan Pralihanta. Lahir di Pekanbaru pada 30 Desember, 29 tahun silam. Dia adalah sosok perempuan pecinta anak-anak. Buku Dia yang Kupanggil Ibu merupakan buku pertamanya yang diterbitkan TransMedia Pustaka.
            Buku ini seakan menjadi ranah bagi para ibu, terutama calon-calon ibu. Ade Wulan, dalam bukunya ini menyajikan berbagai wacana mengenai tips-tips kesuksesan menjadi ibu. Ia memberikan langkah-langkah dan gambaran seseorang dikatakan tepat menjadi ibu. Baik melalui fisik maupun kesiapan mentalnya. Bukan hanya itu, ia juga membingkainya dengan berbagai contoh yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
            Buku ini, dirancang oleh Ade Wulan menjadi beberapa sub bab. Setiap babnya memiliki elemen-elemennya masing-masing. Namun, tetap menunjukkan satu inti yang merangkum keseluruhan bab tersebut. Yaitu kehebatan dari seorang ibu.
            Menurutnya, ibu adalah panutan yang memiliki pengaruh besar pada orang lain (halaman 5). Ia bukan hanya sekedar panggilan kehormatan. Bukan pula panggilan bagi perempuan berumur. Atau perempuan yang melahirkan seorang anak dari rahimnya. Melainkan suatu sosok yang keberadaannya wajib diperhitungkan. Kenapa bisa begitu ? Sebab, sebenarnya panggilan ibu merupakan hal yang umum di dalam masyarakat kita, tetapi mempunyai makna yang sakral. Misalnya saja, perempuan yang mempunyai jabatan tinggi biasanya akan dipanggil ibu oleh bawahannya.
            Namun, bagaimanakah dengan ibu yang tega menganiaya, menjual anaknya, atau bahkan membunuh anaknya sendiri ? Pantaskah dia disapa dengan panggilan “ibu” ? Sesungguhnya panggilan “ibu” hanya pantas dinobatkan kepada orang-orang yang rela berkorban. Dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan anaknya.
            Ade Wulan menjelaskan bahwa tidak ada ketentuan kapan seseorang bisa menjadi ibu. Usia bukanlah prioritas utama seseorang pantas menjadi ibu atau tidak. Akan tetapi kematangan mental dan pola pikir jauh lebih penting dalam mempengaruhi kemampuan seseorang menjadi ibu.

Persiapan Seorang Ibu
Proses menjadi seorang ibu adalah bagian dari perjalanan panjang yang akan dilalui calon ibu. Butuh persiapan yang tidak sedikit dan tidak pula dapat dikatakan sebentar.
Adapun hal utama yang perlu dipersiapkan adalah kematangan mental. Semakin matang mental seseorang, semakin berani dia menghadapi cobaan maupun rintangan. Semakin terbentuk pribadi yang berani, semakin tangguhlah dalam segala kondisi (halaman 38). Selain itu, kesiapan fisik juga harus dipersiapkan untuk kesehatan jasmani (halaman 44).
Dari aspek kesehatan, menjadi ibu di usia muda lebih mudah dan menguntungkan daripada saat usia menginjak kepala tiga. Hal tersebut diperkuat oleh pakar kebidanan dan ginekologi, Lynn Westphal, dari Stanford University School of Medicine di Palo Alto, California (halaman 30). Harapan melahirkan perempuan di usia 20-an lebih besar daripada perempuan di luar usia tersebut.
Selain itu, kualitas sel telur perempuan muda juga lebih unggul sehingga risiko kecacatan pada bayi yang dilahirkan lebih rendah. Memiliki potensi melahirkan ecara normal dan stamina masih bagus.
Secara fisik perempuan muda memang mumpuni menjadi seorang ibu. Akan tetapi, kebanyakan ibu muda belum siap secara mental. Sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kesehatan, The Mental Health Foundation, mengemukakan bahwa ibu muda cenderung mengalami tekanan mental yang berujung pada depresi (halaman 33). Apalagi ibu muda yang baru pertama kali memiliki anak. Pengaruh lingkungan serta gagal beradaptasi pada rutinitas baru menjadi penyebab ibu muda rawan depresi.
Lain halnya dengan perempuan yang sudah menginjak usia kepala tiga. Walupun secara fisik kurang mumpuni, tetapi secara mental dia sudah matang. Perempuan usia 30-an kebanyakan sudah memiliki kesiapan berumah tangga dengan segala aspek yang akan dialami pada kehidupan barunya. Mereka tidak hanya siap dalam arti perannya sebagai seorang istri, tetapi juga kesiapan mentalnya untuk mengurus anak-anaknya.
Ibu yang Luar Biasa
Pada dasarnya, semua ibu luar biasa. Mereka menjadi biasa-biasa saja apabila melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dengan sengaja. Ibu yang luar biasa senantiasa memikirkan, mengupayakan, dan mencontohkan segala yang terbaik untuk anaknya (halaman 72).
Kasih sayang ibu kepada anak tidak boleh jebol. Artinya, anak berhak disayang tetapi tidak selalu dimanjakan (halaman 73).
Ade Wulan banyak mencontohkan kisah-kisah nyata ibu hebat di dalam buku ini. Salah satunya yaitu kisah ibu muda dari Amerika yang benama Lacey Buchanan (halaman 140). Lacey dipercaya oleh Tuhan mengandung, melahirkan, dan menngasuh putra pertamanya yang mengalami cacat fisik. Christian, nama anaknya mengalami sumbing kompleks atau tessier sejak lahir. Christian tidak memiliki bibir atas, langit-langit dalam rongga mulut, bola mata serta kelopak mata bagian bawah. Akan tetapi, dengan sabarnya, Lacey tetap merawat Christian dengan penuh kasih sayang. Dia bahkan tidak malu, mempublikasikan Christian pada masyarakat umum. Pada dasarnya, ibu hebat adalah ibu yang selalu berkorban untuk anaknya.
Buku ini sangat direkomendasikan sebagai panduan inspiratif bagi semua kalangan terutama calon-calon ibu. Hal ini berkaitan dengan banyaknya saran dan uraian kisah tentang kehebatan seorang ibu. Dan juga gaya penulisan yang disajikan adalah dengan bahasa keseharian yang sudah umum dilapisan masyarakat.