http://pulpn.com/wp-content/uploads/2015/01/foto-foto-jalanan-yang-sunyi-dan-sepi-di-seluruh-dunia-5.jpg
Sekarang aku, pada dini hari ini, pukul 00.01, Selasa, 29
Maret 2016.
Masih sama. Aku akan
sedikit mengeluh kepada pagi yang belum menampakkan cahaya itu. Embun
itu. Mentari itu belum muncul. Dan aku selalu sendiri, disetiap petang ini,
yang nyatanya adalah pagi. Pagi yang tidak diketahui banyak orang. Dan aku
menghafalnya. Bukan sebuah penelitian, atau tesis, tapi aku melewatinya dengan
jengah, kadang bingung. Itulah aku. Hanya sendiri. Ditempat ini. Masih sama.
Sekian lama itu. Entah apa dan mengapa. Tapi aku berhenti dengan sebab yang
ramu, sangat kabur, layaknya siluet. Iyah. Itulah aku.
Sehingga ini menjadi hoby atau apalah itu. Tapi aku selalu
menemani malam itu, sampai ia pergi, dan datanglah ia, sang pengganti malam
(baca: pagi) yang masih petang. Aku juga bingung. Sementara orang-orang
melewati pagi dengan keindahan dan kecerahan. Dan aku menjumpai ia dengan gelap,
sunyi, dan sepi. Itulah aku. Yang pada akhirnya selalu merepotkan malam dan
pagi.
Dulu. Yang pada waktu itu telah lama aku jumpai, menjadi pagi
dan malam yang indah. Aku masih ingat. Aku tertawa bersama malam dan pagi.
Malam yang masih menjagaku, dan pagi yang masih menghiburku. Dan sekarang…
mereka lama tak kembali, entah karena apa. Mungkinkah karena aku lama tak
menjemputnya, padahal mereka juga telah lama menunggu semenjak waktu itu? Aku
pun tak begitu paham.
Coba lihat, sekarang aku hanya hidup ketika malam mulai
pergi, dan kedatangan pagi yang masih begitu petang. Aku bingung. Dulu
merekalah yang mengerti semua tentang aku. Dan sekarang, setiap detail aku
hafal tentang mereka. Aku pun tak tahu.
Seperti apa sebenarnya diri ini. Sama atau tidak dengan yang
kemarin, aku pun tak mengerti. Itulah aku, yang masih terjaga ketika malam
pergi, dan pagi masih begitu petang.
Tapi mereka adalah kawan. Aku tak begitu yakin mereka
beranggapan sama sepertiku. Karena kita bahkan tak pernah terlihat menyapa,
apalagi terlibang akrab. Hanya saja, aku ada di waktu itu, dan mereka hadir di
waktu itu. Kita hanya berpapasan yang terlalu sering. Jadi mungkin mereka
sedikit tahu tentangku, atau malah tidak.
Sewaktu ketika, mereka pernah menegur dengan sapaan yang
sampai sekarang pun tak hilang dari sini (baca: hati). “apakah kita kenal? Kau
terlalu banyak mencampuri urusanku. Kau terlalu tahu atau malah mengada-ada.
Padahal, sedikitpun aku tak mengerti tentangmu. Tapi mengapa kau begitu
ambisius. Hiduplah dalam duniamu. Dan jangan banyak melihat kearahku. Karena
sebenarnya aku tak membutuhkan. Jadi sewajarnya, bila kau hanya ada di sebelah
pandanganku saja. Di sisi lain, aku sama sekali jauh darimu”.
Itu melekat. Aku ingin seperti itu, tutup mata dan telinga.
Berjalan sesenang hati. Tapi, memahamimu adalah hidupku. Atau hanya sebuah
pelarian saja. Entah mengapa dan bagaimana. Harus aku saja yang tahu, dan k au
tidak membalasnya. Atau paling tidak dengan seulas senyuman itu. Aku tidak
minta malam untuk menjagaku kembali, dan pagi untuk menghiburku seperti waktu
itu. Hanya saja, aku ingin di perjumpaan dengan malam yang hampir hilang, dan
pagi yang masih begitu petang, di saat itu aku bahagia. Sedikit saja. Hanya
seperempat hari,. Ah tidak, itu terlalu banyak. Atau hanya satu jam waktu.
Tidak juga. Atau hanya seperdetik saja. Tidak, itu masih terlalu membuang-buang
waktu. Aku hanya butuh satu tarikan nafas saja. Setelah itu, aku tidak akan
mengganggumu. Tidak, tidak. Di waktu itu, aku akan pergi, sampai-sampai tak ada
lagi, AKU yang hanya sebuah onggokan tak terlihat pada malam yang telah hilang
dan kedatangan pagi yang masih begitu petang. Setelah itu anggap saja aku
sebuah halusinasi. Tidak itu terlalu jelas. Anggap saja aku adalah hari esok
yang tak pernah ada. Karena aku telah hilang secepatnya, di hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar