Rabu, 23 Maret 2016

MEMORIES NEVER DIE


https://kenuzi50.files.wordpress.com/2011/05/wpid-12129-menunggu.jpg
Seperti dalam sebuah melodi. Terdapat nada yang bisa saja indah atau justru sebaliknya.
Ini cerita pagi, disaat fajarnya mulai menampakkan keanggunannya. Dia tidak melenggak-lenggok seperti bunga dan dedaunan segar yang kemarin sore layu. Tapi, dia tegak selayak ketegasannya sangat jelas.
Disitulah aku mendapatkan kisah, yang entah baru atau justru malah mainstream. Yang pasti ini adalah senyatanya ada. Yah. Aku mendapatkan itu semua dengan kesaksian sabit yang masih bugar sampai akhirnya dia senja kembali.
Dimulai dari pandangan mata. Sangat gamblang dan lumrah seperti biasa adanya.
JATUH CINTA. Bukan falling in love. Tapi ini lebih bermakna (mungkin) daripada itu.
Dia yang kembali aku kenal hanya sebatas nama. Tidak ada sapaan dan sebatas kecangguangan yang sebenarnya adalah sisi kelemahan dariku. Itulah aku. Tak bisa berbasa-basi atau sekedar say hey. Karena melihatnya pun membutuhkan seribu alasan untuk menyanggupi.
Dia yang walau pernah membagi senyumnya kepada yang lain. Tapi aku tak masalah. Itu hanya sebatas pemanis bait atau penyedap rasa. Yang terpenting dia tak mengakui di depanku walau aku tahu itu kebohongan. Setidaknya ada usaha untuk tidak membuat hati ini menjadi serpihan. Walau aku yakin hatinyalah yang merupakan serpihan dan terbagi.
Aku tidak mempersulit dan mempermasalahkan. Ini buta. Tapi setidaknya bukan sebuah skema palsu. Dan itu aku mengatakan kunci kuat. AKU PERCAYA. Tidak ada yang sejati dan abadi. Dan hari esok tetaplah sebuah misteri. Karena tebakannya baru bisa terduga saat menjadi hari kemarin. Dan masih confused pada hari ini.
Itu terjadi secara rutin dan menambah berat di dalam hati. Aku mencintainya. Yang entah karena nafsu atau keridloan-Nya. Itu mungkin palsu. Tapi aku meyakininya. Dia yang sampai sekarang masih sama ada di sini (baca: hati).
Senyumnya pernah benar-benar ditujukan hanya untukku, walau seingatku hanya sekali. Tak apa, itu adalah anugerah terindah dan aku mensyukurinya.
Dia tidak seperti emas yang menjadi serbuan para jutawan. Dia juga bukan lembaran uang yang terus diagungkan kalangan borjuis. Dia juga bukan jabatan yang diperebutkan oleh para politikus. Tapi dia ada dan nyata. Sekali lagi, DIA ADA dan NYATA. Aku melihatnya begitu jelas. Sejelas pancaran matanya, sejelas senyumnya yang masih ramu dan meragukan. Sejelas aku melihat kecintaannya kepada-Nya (Allah) –itu merupakan kekagumanku yang benar nyata. Tapi itu INDAH. Dan aku menikmati dalam sendu dan sedih. Dalam DIAM.
Walau kenangan itu begitu sedikit dan hampir seperti bayangan. Tapi dia selalu ada dan tetap ada.
Jika seandainya bayangan itu kembali, aku yakin itu akan menjadi kesaksian yang asli. Antara AKU dan DIA. Dia yang masih ada dan tetap ada disini -hati.
Aku seperti mimpi yang masih teka-teki. Karena scenenya sangat sedikit bahkan sebatas lewat. Tapi dia selalu ada dan tetap ada. Bukan sebagai viguran, tetapi karakter utama yang masih sanksi dan samar.
Seandainya dia akan selalu ada, maka aku akan menjadi pendamping yang suka dan duka selalu atas rodlo-Nya. Dan itu semua bukan sekedar pemenuhan syahwat dan tidak menimbulkan mudharat. Iyah, antara AKU dan DIA. Selama waktu yang masih setia menjadi titik-titik. Dan perlu untuk melanjutkan kisah. Kisah itu, yang pertama dan saat ini masih sama.
Kepadanya: Aku masih sama berdiri disini dengan tangan yang kosong dan sangat dingin. Maka jangan jadi ragu. Mendekatlah dan genggam tangan itu antara selah jariku dan kamu. Agar tidak ada celah dan alasan lagi untuk menjadi dingin. Aku masih menunggu, hay kamu yang dulu dan sekarang masih sama dan tambah berat. dan senyum itu yang sampai saat ini belum bisa melebihi dari yang lain. Biar dia seorang kalangan raja pun. Kamu yang biasa, tapi istimewa disini (aku). Oleh karena itu, aku tak berani dan tak pernah berpikir sekali pun untuk menghilangkan kisah itu yang sangat sedikit. Biarlah KAMU menjadi NYATA. Aku menunggu. Dimana saatnya AKU dan KAMU menjadi SATU. SATU atas seijin ALLAH SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar