https://kenuzi50.files.wordpress.com/2011/05/wpid-12129-menunggu.jpg
Seperti
dalam sebuah melodi. Terdapat nada yang bisa saja indah atau justru sebaliknya.
Ini
cerita pagi, disaat fajarnya mulai menampakkan keanggunannya. Dia tidak
melenggak-lenggok seperti bunga dan dedaunan segar yang kemarin sore layu.
Tapi, dia tegak selayak ketegasannya sangat jelas.
Disitulah
aku mendapatkan kisah, yang entah baru atau justru malah mainstream. Yang pasti
ini adalah senyatanya ada. Yah. Aku mendapatkan itu semua dengan kesaksian
sabit yang masih bugar sampai akhirnya dia senja kembali.
Dimulai
dari pandangan mata. Sangat gamblang dan lumrah seperti biasa adanya.
JATUH
CINTA. Bukan falling in love. Tapi ini lebih bermakna (mungkin) daripada itu.
Dia
yang kembali aku kenal hanya sebatas nama. Tidak ada sapaan dan sebatas
kecangguangan yang sebenarnya adalah sisi kelemahan dariku. Itulah aku. Tak
bisa berbasa-basi atau sekedar say hey. Karena melihatnya pun membutuhkan
seribu alasan untuk menyanggupi.
Dia
yang walau pernah membagi senyumnya kepada yang lain. Tapi aku tak masalah. Itu
hanya sebatas pemanis bait atau penyedap rasa. Yang terpenting dia tak mengakui
di depanku walau aku tahu itu kebohongan. Setidaknya ada usaha untuk tidak
membuat hati ini menjadi serpihan. Walau aku yakin hatinyalah yang merupakan
serpihan dan terbagi.
Aku
tidak mempersulit dan mempermasalahkan. Ini buta. Tapi setidaknya bukan sebuah
skema palsu. Dan itu aku mengatakan kunci kuat. AKU PERCAYA. Tidak ada yang
sejati dan abadi. Dan hari esok tetaplah sebuah misteri. Karena tebakannya baru
bisa terduga saat menjadi hari kemarin. Dan masih confused pada hari ini.
Itu
terjadi secara rutin dan menambah berat di dalam hati. Aku mencintainya. Yang
entah karena nafsu atau keridloan-Nya. Itu mungkin palsu. Tapi aku meyakininya.
Dia yang sampai sekarang masih sama ada di sini (baca: hati).
Senyumnya
pernah benar-benar ditujukan hanya untukku, walau seingatku hanya sekali. Tak
apa, itu adalah anugerah terindah dan aku mensyukurinya.
Dia
tidak seperti emas yang menjadi serbuan para jutawan. Dia juga bukan lembaran
uang yang terus diagungkan kalangan borjuis. Dia juga bukan jabatan yang
diperebutkan oleh para politikus. Tapi dia ada dan nyata. Sekali lagi, DIA ADA
dan NYATA. Aku melihatnya begitu jelas. Sejelas pancaran matanya, sejelas
senyumnya yang masih ramu dan meragukan. Sejelas aku melihat kecintaannya
kepada-Nya (Allah) –itu merupakan kekagumanku yang benar nyata. Tapi itu INDAH.
Dan aku menikmati dalam sendu dan sedih. Dalam DIAM.
Walau
kenangan itu begitu sedikit dan hampir seperti bayangan. Tapi dia selalu ada
dan tetap ada.
Jika
seandainya bayangan itu kembali, aku yakin itu akan menjadi kesaksian yang
asli. Antara AKU dan DIA. Dia yang masih ada dan tetap ada disini -hati.
Aku
seperti mimpi yang masih teka-teki. Karena scenenya sangat sedikit bahkan
sebatas lewat. Tapi dia selalu ada dan tetap ada. Bukan sebagai viguran, tetapi
karakter utama yang masih sanksi dan samar.
Seandainya
dia akan selalu ada, maka aku akan menjadi pendamping yang suka dan duka selalu
atas rodlo-Nya. Dan itu semua bukan sekedar pemenuhan syahwat dan tidak
menimbulkan mudharat. Iyah, antara AKU dan DIA. Selama waktu yang masih setia
menjadi titik-titik. Dan perlu untuk melanjutkan kisah. Kisah itu, yang pertama
dan saat ini masih sama.
Kepadanya:
Aku masih sama berdiri disini dengan tangan yang kosong dan sangat dingin. Maka
jangan jadi ragu. Mendekatlah dan genggam tangan itu antara selah jariku dan
kamu. Agar tidak ada celah dan alasan lagi untuk menjadi dingin. Aku masih
menunggu, hay kamu yang dulu dan sekarang masih sama dan tambah berat. dan
senyum itu yang sampai saat ini belum bisa melebihi dari yang lain. Biar dia
seorang kalangan raja pun. Kamu yang biasa, tapi istimewa disini (aku). Oleh
karena itu, aku tak berani dan tak pernah berpikir sekali pun untuk
menghilangkan kisah itu yang sangat sedikit. Biarlah KAMU menjadi NYATA. Aku
menunggu. Dimana saatnya AKU dan KAMU menjadi SATU. SATU atas seijin ALLAH SWT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar